Breaking News
Loading...
BALI NASIONAL NEWS Mengucapkan "Selamat Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 69 (17-8-1945--17-8-2014), Jayalah Indonesiaku"
Minggu, 12 Agustus 2012

JIWA YANG TENANG

JIWA YANG TENANG-Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan adanya nafsu yang senantiasa mengajak kepada kemaksiatan, namun ada juga nafsu yang tunduk dan dapat dikendalikan oleh orang-orang yang taat kepada Alloh Swt. Nafsu tesebut  yakni: 1.an Nafsul Muthmainah 2.an Nafsul Rodliah, dan 3.an Nafsul Mardliyah

Nafsu tersebut hendaknya dipelihara dan dijaga agar tidak terkontaminasi dengan nafsu lainnya yang hanya mengajak kepada keburukan. Sebagian ulama mengatakan, ”Sesungguhnya Alloh Ta’ala menamakan hari pertama itu dengan hari Ahad, karena pada hari itulah Dia memulai menciptakan segala sesuatu.”

Alloh berfirman, “Hari Ahad adalah hari pertama, sebelumnya tidak ada sesuatu apapun selain Tuhanmu. Laa ilaaha illalloh Al-Malikul-Haqqul-Mubiin. "Tiadalah kecintaan itu, melainkan bagi kekasih pertama

Kekasih pertama itu adalah Alloh Ta’ala. Dan engkau telah memindahkan rasa cintamu itu kepada ibu, ayah, istri, anak, harta benda  dan yang lainnya. Jika engkau meninggal, maka akan terputuslah kecintaan itu dari hatimu dan terputus pula kecintaan mereka kepadamu.

Maka berkatalah Alloh Azza wa Jalla, “Wahai hamba-Ku, Aku adalah kekasihmu yang pertama, engkau cintai Aku pada hari perjanjian. Sekarang setiap pecinta telah meninggalkanmu, sedang Aku menghubungkanmu, maka kembalilah kepada-Ku, kelak Aku muliakan engkau dengan kemuliaan pecinta.”
Firman-Nya dalam surat al-Fajar ayat 27-30 yang berbunyi,



Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surge-Ku. (QS. Al-Fajar;27-30)

Itulah nafsu yang telah patuh dan dapat dikendalikan, maka berbahagialah orang yang mampu mengekang hawa nafsunya, karena telah diberi kekuatan oleh Alloh.Sebagaimana yang terjadi pada para sahabat r.a, mereka orang-orang yang sukses dunia dan akhirat, karena Alloh telah member ampunan dan keridhaan-Nya.

Wahai hamba-Ku, kecintaan itu ada empat:
1). Memberikan maslahat bagimu pada awal permulaan , tetapi tidak pada akhirnya, yakni cinta kedua orang tuamu, mereka hanya memberikan kemaslahatan dikala engkau masih kecil, ketika keduanya telah menjadi tua dan lemah, maka mereka tidak lagi memeliharamu.
2). Memberikan maslahat bagimu pada akhirnya saja, yakni anakmu yang melayanimu hingga akhir hayatmu.
3). Memberikan maslahat hanya pada lahirnya saja, yaitu teman dan sahabat laki-lakimu saja.
4). Memberikan maslahat hanya pada batinnya saja, yaitu istrimu.

Alloh Azza wa Jalla berfirman, “Wahai hamba-Ku, jika engkau hendak mencintai seseorang, maka cintailah Aku, karena Aku adalah kekasih yang memberikan maslahat bagimu pada permulaan, akhir, lahir dan batin.”

Maka awalnya manusia itu pada fitrahnya mencintai Rabbnya, akan tetapi sesuai dengan perjalanan waktu, lambat laun ia diseret oleh syaitan an hawa nafsu yang diperturutkan. Sehingga kecintaan seorang hamba yang awalnya mesra maikn lama makin pudar, bahkan akhirnya hilang sama sekali, sampai ia akan menyadarinya tatkala nyawa tinggal di kerongkongannya. Sementara orang-orang yang beriman senantiasa menjaga hak-hak Alloh dengan sungguh-sungguh dan selalu berusaha mengendalikan hawa nafsunya, karena merasa tidak aman dan takut akan azb-Nya. Alloh Swt berfirman




“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggal baginya. (QS. 79;40-41)

Rosululloh Saw bersabda, “Musuh yang paling ganas bagi dirimu adalah hawa nafsumu, lalu disamping itu adalah istrimu, kemudian anakmu, kemudian yang dekat denganmu dan lainnya yang dekat denganmu pula.”

Orang yang diberi rahmat dan anugerah kekuatan dzahir maupun batinoleh Alloh, ialah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, sehingga setiap gerak-geriknya senantiasa merasa didalam pengawasan-Nya. Langkah-langkahnya selalu dalam keadaan terbimbing, sehingga perbuatan baiknya nampak lebih menonjol ketimbang keburukan-keburukan yang ada pada dirinya. Sehingga terbentuklah akhlak mulia, sebagaimana yang dimiliki oleh para anbiya dan kekasih pilihan-Nya, karena bersungguh-sungguh menempuh jalan yang hanya berharap keridhaan-Nya. Alloh.

Imam Baihaqi dan Ibnu Asakir bersumber dari Ibnu Abbas berkata, bahwa Nabi Daud as, berkata tatkala ia berdialog denganh Tuhannya, 
“Ya Tuhanku, siapakah di antara hamba-Mu yang lebih engkau cintai, agar aku turut mencintainya bersama cinta-Mu kepadanya ?”
“Ya Daud, hamba-Ku yang paling Aku cintai ialah orang yang bersih hatinya, bersih kedua tangannya, tidak mengganggu orang lain dengan kejahatan, tidak berjalan membawa fitnah, teguh pendirian tanpa bergeser walaupun gunung-gunung sendiri bergeser. Ia mencintai-Ku dan mendorong pula dengan usahanya agar hamba-Ku mencintai-Ku.”
Daud berkata, “Ya Tuhan-Ku, Engkau tentu telah mengetahui, bahawa aku cinta kepada-Mu dan cinta pula kepada orang-orang yang mencintai-Mu, maka bagaimana caranya membuat hamba-hamba-Mu itu cinta kepada Engkau?”
Alloh menjawab, “Ingatkan mereka terhadap ciptaan-ciptaan-Ku, bencana-Ku, nikmat-Ku ! Hai Daud, tiada seorang hambapun yang menolong orang teraniaya atau berjalan bersama membela orang yang dalam keadaan teraniaya itu, melainkan Aku akan teguhkan berdirinya (pendirian) kedua telapak kakinya pada hari dimana kaki-kaki akan tewrgelincir.”

Isa as berkata, “ Beruntung sekali orang yang meninggalkan keinginan hawa nafsu demi membela sesuatu yang ghaib yang tidak bisa terlihat.”

Diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Alloh Swt menurunkan kepada Nabi Daud as, “Hai Daud, takutlah dan peringatkanlah kepada teman-temanmu, untuk tidak terbujuk keinginan nafsu, sebab hati yang selalu menuruti keinginan hawa nafsu, maka akalnya akan terhalang dari-Ku.”

Nabi Saw berkata, “Bertahanlah kamu ketika datang bahaya, dan janganlah kamu memperturutkan hawa nafsumu yang mengajak durhaka kepada Alloh. Andaikata demikian, ia kelak akan memusuhimu pada hari kiamat, lalu sebagian tubuh akan mencari bagia yang lain, kecuali Alloh mengampuni dan merahasiakan.”

Yahya bin Mu’adz ar Razi berkata, “Perangilah hawa nafsu dengan pedang-pedang riyadah (latihan jiwa).”
Riyadah ada empat cara: 1. Makan ala kadarnya 2. Tidur seperlunya 3. Bicara seperlunya dan 4. Sabar menghadapi gangguan manusia.

Sedikit makan bisa mematikan hawa nafsu, sedikit tidur menjernihkan semua kemauan, sedikit bicara bisa menyelamatkan dari bahaya dan sabar atas manusia bisa meninggikan keutamaan. Tidak ada yang sulit bagi seorang manusia kecuali sabar ketika disakiti, sabar ketika nafsu bergerak mengikuti kesenangan dan dosa, maka hunuslah pedang-pedang riyadah, agar selamat dari bahaya bujukan nafsu.

Sebagian hukama berkata, “Barang siapa yang dikuasai nafsu, maka ia menjadi tawanannya, terkurung, tertindas dan terbelenggu. Nafsu itu menarik kemana saja ia mau dan menghalangi hati dari faedah-faedah.” (Roelly R – Ibnu Hasan Bisry At-Turjani/ Suprayitno,B.A.M, MBA)

0 komentar:

Posting Komentar

Thank you for your visit, do not forget to browse Guest Book and Leave a Coment yes, as a sign of brotherhood we, and we will also visit your Web site
 
Toggle Footer
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...