Breaking News
Loading...
BALI NASIONAL NEWS Mengucapkan "Selamat Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 69 (17-8-1945--17-8-2014), Jayalah Indonesiaku"
Rabu, 26 September 2012

MA’RIFAT & SULUK SUNAN KALIJAGA


Sunan Kalijogo-Saudara banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari sejarah, orang jawa menyebut belajar pada pengalaman orang lain itu sebagai “Kaca Benggala”. Kali ini saya  masih ingin buat postingan tentang sejarah kewalian di tanah jawa khususnya Makrifat atau Suluk Kanjeng Sunan Kalijaga (Kalijogo), lalu apa yang bisa kita petik dari pelajaran tersebut. Mari kita simak langsung pelajaran dari pengalaman Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kala itu, Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga dijuluki Syech Malaya berniat hendak pergi ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji, namun ditengah perjalanan Kanjeng Sunan dihadang Syaikh Mahgrabi atau Nabi Khidir as, Nabi Khidir as berpesan agar Sunan Kalijaga mengurungkan niatnya untuk pergi ke Mekkah dan sebaiknya kembali ke tanah jawa, sebab ada hal yang lebih penting untuk dilakukan di tanah  jawa. Kalau tidak, maka penduduk pulau jawa akan kembali kafir.

Apa dan bagaimana sebenarnya wejangan/ nasehat Nabi Khidir as pada Kanjeng Sunan Kalijaga ? Inilah sebagian kutipan wejangan tersebut yang tertulis didalam serat Suluk Sunan Kalijaga.

Birahi ananireku, aranira Alloh jati, Tanana kalih tetiga. Sapa wruha yen wus dadi, ingsun weruh pesti nora, ngarani namanireki.

Timbullah hasrat kehendak Alloh menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Alloh dengan sesungguhnya; Alloh itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta punilu, ingkang kinen angarani, pepakane ana ika, akon ngarani puniki,
iya Alooh angandika, mring Muhammad kang kekasih.

Adapun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Alloh kepada Nabi Muhammad yang menjadi kekasih-Nya.

Yen Tanana sira iku, ingsun Tanana ngarani, mung sira ngarani ing wang, dene tunggal lan sireki iya ingsun iya sira, aranira aran mami.

Kalau tidak ada dirimu, Alloh tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku. Sehingga kelihatan seolah-olah setup dengan dirimu. Adanya AKU, Alloh, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzat-Ku.

Tauhid hidayat sireku, tunggal lawan Sang Hyang Widhi, tunggal sira lawan Alloh, uga donya uga akhir, ya rumangsana pangeran, ya Alloh ana nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Alloh, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Alloh itu ada dalam dirimu.

Ruh idhofi neng sireku, makrifat ya den arani, uripe ingaranan syahdat, urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya, rukuk pamore Hyang Widhi

Ruh idhafi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup.  Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.

Sekarat tananamu nyamur, ja melu yen sira wedi, lan ja melu-melu Alloh, iku aran skarati, ruh idhofi mati tannano, urip mati, mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakaratul maut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Alloh. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhafi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup.

Liring mati sajroning ngahurip, iya urip sajroning pejah, urip bae selawase, kang mati nepsu iku, badan dhohir ingkang nglakoni, katampan badan kang nyata, pamore sawujud, pagene ngrasa matiya. Syekh Malaya (Sunan Kalijogo) den padhang sira nampani, wahyu prapta nugraha.

Mati di dalam kehidupan, atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian ! Syeh Malaya (Sunan Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Semoga tulisan tersebut mampu menginspirasi diri kita untuk belajar dan mencari tahu dari mana asal muasal diri ini, dan bagaimana penciptaannya, sehingga kita tidak akan tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akherat kelak. Dan dari wejangan tersebut kita bisa lebih mengenal Gusti Alloh dan seharusnya manusia tidak takut untuk menghadapi kematian, karena kematian adalah perjalanan kita menghadap Yang Maha Pemberi Kehidupan dan Yang Maha Hidup.

Disamping itu juga terdapat wejangan tentang bagaimana seharusnya semedi yang disebut  “mati sajroning ngahurip”  dan bagaimana dalam menjalani kehidupan di dunia ini. ( Roelly R  &  dokumenpemudatqn)Imam Ghazali dan Kresna

0 komentar:

Poskan Komentar

Thank you for your visit, do not forget to browse Guest Book and Leave a Coment yes, as a sign of brotherhood we, and we will also visit your Web site
 
Toggle Footer
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...